Kepadaku, Palestina

Khidmat
Al-fatihah untuk permulaan sajak ini
dan segenap bumi melesap dalam nadinya
kota senyap lenyap dari symphoni rindu
Angin merembet berkelakar anyir kubangan coklat
dari tepian aspal-aspal menganga
Ladang taman zaitun adalah taman kematian
ribuan mayat pembantaian yang dimahkotai
syuhada

Setiap hari kudapati kabar lewat barisan rapi
koran pagi
dan secangkir kopi amis darah
Tentang nyala mata yang mengobar luapan benci
Korban rubuh sebelum diusung merunduk-runduk mencapai jalan keluar
Sebab timah mendidih mengerami jantungnya
Dan senja bersambut semburat merah
Dari darah muncrat melangit
Petang tumpah setelah nyawa lunas sebagai
bayarannya
Bukan. Petang itu bukan malam
Petang yang berbondong malaikat menyambut
ruh dengan segala kesuciannya

Aku segera menyanyi
Lagu Gugur Bunga
*gugur satu tumbuh seribu …*
Dirapali di selempitan si syahid
Menggapai-gapai langit
Mengetuk ‘arsy

Dan (lagi-lagi)
Aku adalah penonton sejati
Mengantar doa-doa lewat hujan airmata
Apa yang bisa kami beri
Hingga senyummu tak lagi membentur mimpi?
Antara merdeka dan tirani
Tasbih pasir batu pepohon rumah-rumah masjid gereja burung angin sembilu ngilu
Menggeletar semesta seluruh
: bahwa sesungguhnya rezim yang merebut Al-
Quds dari kesuciannya harus dihapuskan dari dunia !

*03012011*
*Saga Palestina mencapai-capai hatiku
Read More..

Sebuah Catatan

aku tak pernah tahu. bahkan tak juga menduga. akan seraut wajah seperti apa dirimu setelah dalam guncangan yang kau saksikan di jalanan bahkan mengobar di ujung matamu. mungkin ini yang kau namakan merayakan hidup. tanpa internet tanpa telepon seluler tanpa sms. dengan lautan gelisah. mungkin banyak puisi baru di antara rakyat yang memberang. tragedi sejarah terangkum jelas dan akan dengan bangga kau ceritakan pada lazuardi kecilmu. tapi, cuma aku namanya yang mesti bersabar menunggu. sebab takdirku memang menunggu. entah dengan kuat debur dada atau hujan yang mendesak. merenyai sunyi.
Read More..

Epilog Di Awal Malam

Ini malam yang kesekian tanpa bintang. Dan tentu saja lengkap dengan derai merenyai yang setia merembeti dinding malam. Pekat, katanya dalam jelaga dalamnya renai tak dapat kau rasakan dinginnya. Katanya dalam bundar bulan kutemui segala binarmu. Tapi bulan palsu. Membias di hampir genap tigapuluh radiansi.

Apalagi yang paling menyiksamu selain malam tanpa derak angin. Rumput tak mungkin bergoyang. Pepohonan gerah dengan segala karbonasi di dalamnya.

Apalagi yang membuat malam kehilangan jiwanya setelah gemintang tenggelam, bulan temaram menghilang, dan tanpa sapaan lembutmu, atau sekedar menanyai kabar padaku.

Apalagi yang membuat malam begitu pedih selain menghadapi kenyataan bahwa esok masih belum kutemui segala nyatamu. Bahwa esok masih kuluruh segala cemas dalam hujan. Bahwa begitu inginnya aku mendengar kau berkata : aku baik-baik saja dengan seluruh degup buatmu.

Semoga baik-baik saja. Selalunya baik-baik saja. Fi amanillah.
31012011
Read More..