Memaparkan catatan dengan label puisi. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label puisi. Papar semua catatan

Memilih Langkah

2011
adalah bilangan
yang melewati dua milenium
lewat sepuluh
dengan penuh coretan sejarah luka-luka perang kegemilangan panglima berjuta si miskin papa yang disuapi kerontang di pinggiran kota-kota megah yang menyembunyikan orang-orang berdasi anak-anak laki yang berpipi gempal perempuan yang bertubuh sintal daging-daging yang terbuang sebab penyakit liar mematikan

tahun-tahun
telah begitu menua
anak-anak zaman
banyak kehilangan ibunya
-emansipasi sesekali menggerogot mahkota ibu dari perempuan
dan bayi-bayi
tak ingat kalau mereka punya keperkasaan ayah

entahlah,
bahkan cinta hanya tersisa kata-kata. benci menjelma angkara. aku bingung mengeja kasih dengan apa. membilang rindu sedalam apa. 2010 habis tenggelam bersama akhlak yang doyong akidah. korupsi memutilasi hukum peradaban. kolusi nepotisme mengerak di labia kantoran. rakyat menjerit-jerit di bui kolong jembatan. segala kebutuhan melangit maka rakyat melata-merangkak menggapainya. sedang pejabat kotor tertawa menyapa kota-kota angkuh di seberang benua lupa di negaranya memegang hak manusia.

ah,
tapi harapan itu terus selalu ada
tinggal memilih
: diam meratapi bangsa ; berevolusi buat berubah ; atau mati menjadi bangkai sejarah

01012011
kota begitu khidmat membuka awal tahun

Read More..

Sebelum Temaram Setelah Petang

malam ini
kemerdekaan bukan milik udara tigapuluh empat derajat
bahkan busurnya
tak sempat membayang
petang dan temaram

05012011

Read More..

Kepadaku, Palestina

Khidmat
Al-fatihah untuk permulaan sajak ini
dan segenap bumi melesap dalam nadinya
kota senyap lenyap dari symphoni rindu
Angin merembet berkelakar anyir kubangan coklat
dari tepian aspal-aspal menganga
Ladang taman zaitun adalah taman kematian
ribuan mayat pembantaian yang dimahkotai
syuhada

Setiap hari kudapati kabar lewat barisan rapi
koran pagi
dan secangkir kopi amis darah
Tentang nyala mata yang mengobar luapan benci
Korban rubuh sebelum diusung merunduk-runduk mencapai jalan keluar
Sebab timah mendidih mengerami jantungnya
Dan senja bersambut semburat merah
Dari darah muncrat melangit
Petang tumpah setelah nyawa lunas sebagai
bayarannya
Bukan. Petang itu bukan malam
Petang yang berbondong malaikat menyambut
ruh dengan segala kesuciannya

Aku segera menyanyi
Lagu Gugur Bunga
*gugur satu tumbuh seribu …*
Dirapali di selempitan si syahid
Menggapai-gapai langit
Mengetuk ‘arsy

Dan (lagi-lagi)
Aku adalah penonton sejati
Mengantar doa-doa lewat hujan airmata
Apa yang bisa kami beri
Hingga senyummu tak lagi membentur mimpi?
Antara merdeka dan tirani
Tasbih pasir batu pepohon rumah-rumah masjid gereja burung angin sembilu ngilu
Menggeletar semesta seluruh
: bahwa sesungguhnya rezim yang merebut Al-
Quds dari kesuciannya harus dihapuskan dari dunia !

*03012011*
*Saga Palestina mencapai-capai hatiku
Read More..

Epilog Di Awal Malam

Ini malam yang kesekian tanpa bintang. Dan tentu saja lengkap dengan derai merenyai yang setia merembeti dinding malam. Pekat, katanya dalam jelaga dalamnya renai tak dapat kau rasakan dinginnya. Katanya dalam bundar bulan kutemui segala binarmu. Tapi bulan palsu. Membias di hampir genap tigapuluh radiansi.

Apalagi yang paling menyiksamu selain malam tanpa derak angin. Rumput tak mungkin bergoyang. Pepohonan gerah dengan segala karbonasi di dalamnya.

Apalagi yang membuat malam kehilangan jiwanya setelah gemintang tenggelam, bulan temaram menghilang, dan tanpa sapaan lembutmu, atau sekedar menanyai kabar padaku.

Apalagi yang membuat malam begitu pedih selain menghadapi kenyataan bahwa esok masih belum kutemui segala nyatamu. Bahwa esok masih kuluruh segala cemas dalam hujan. Bahwa begitu inginnya aku mendengar kau berkata : aku baik-baik saja dengan seluruh degup buatmu.

Semoga baik-baik saja. Selalunya baik-baik saja. Fi amanillah.
31012011
Read More..